Menu
s
0 Comments

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Observasi merupakan suatu kegiatan yang sangat penting dalam mengetahui bagaimana cara mencari informasi secara langsung dari masyarakat. Dalam hal ini penulis selaku mahasiswa Ilmu Pemerintahan Universitas Brawijaya melakukan observasi di daerah kos atau tempat tinggal penulis yang bertempat di daerah Mertojoyo, Kota Malang, Jawa Timur untuk memenuhi tugas dalam bentuk laporan observasi terkait penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Laporan hasil observasi ini disusun guna mememenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan. Dengan adanya observasi ini diharapkan kita dapat mengetahui bagaimana kita peka terhadap lingkungan sekitar dan dengan harapan adanya kepedulian tersebut menganut nilai pancasila agar terciptanya ideologi yang harmonis.

Rumusan Masalah
a. Apa itu Pancasila?
b. Apa hubungan Pancasila dengan masyarakat Indonesia?
c. Apakah fungsi Pancasila bagi warga negara Indonesia?
Tujuan Observasi
a. Untuk mengetahui apa itu Pancasila
b. Untuk mengetahui keterkaitan Pancasila dengan masyarakat Indonesia
c. Untuk mengetahui fungsi Pancasila bagi warga negara Indonesia
BAB II
LAPORAN OBSERVASI
Gambaran Lingkunan Tempat Melakukan Observasi
Pada kesempatan kali ini, penulis di izinkan untuk melakukan observasi terkait pengamalan nilai Pancasila di suatu daerah. Penulis memilih lingkungan yang paling familiar dengan kehidupan sehari-hari penulis yaitu tempat tinggal penulis sendiri yang bertempat di daerah Mertojoyo, Kelurahan Merjosari dan yang pasti terletak di Kota Malang. Alasan penulis memilih tempat ini dikarenakan banyak spot kegiatan dan tempat yang berkesinambungan dengan pengamalan nilai-nilai pancasila.

Untuk menjabarkan secara umum, penulis dapat mengatakan kalau lokasi observasi penulis sangat-sangat hormat terhadap perbedaan dan di lokasi ini masyarakatnya hidup secara multikultur, terbukti dengan banyaknya populasi masyarakat non-muslim serta keberagaman tempat ibadah yang artinya menggambarkan sikap menghargai perbedaan pada masyarakat.

Bentuk Pengamalan Pancasila
Setelah melakukan observasi di daerah tempat tinggal penulis yaitu di daerah Mertojoyo, Kelurahan Merjosari, Kota Malang, maka penulis akan mencoba memaparkan hasil observasi penulis mengenai “Penanaman Nilai-Nilai Pancasila di Daerah Sekitar” dengan berlandaskan 5 sila yang terkandung dalam pancasila yaitu :
A. Sila Pertama : Ketuhanan Yang Maha Esa
Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Masyarakat Indonesia percaya dan takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab. Seharusnya, dalam sila pertama ini warga negara Indonesia sudah paham tentang Tuhan Yang Maha Esa. Meyakini bahwa perbuatan dan sikap kita pasti akan diperhatikan oleh Tuhan kita masing-masing. Tetapi pada kenyataannya masih banyak orang yang merasa bahwa hidupnya bebas tanpa pengawasan dari Tuhan. Kenyataannya masih banyak kebohongan, kecurangan, dan masih banyak hal lainnya yang diperbuat oleh manusia. Sebagai contoh kecil yaitu masih banyak pelajar yang berbuat kecurangan dalam study nya seperti mencontek, membuat cara apapun untuk mendapatkan jawaban saat ujian, dan masih banyak lagi. Sama halnya dengan koruptor, yang berbuat seenaknya merampas uang yang bukan haknya. Hal-hal tersebut menandakan bahwa orang tersebut merasa tidak diawasi oleh Tuhan mereka.
Untuk persoalan sila pertama, bisa penulis simpulkan bahwa negara Indonesia tidak merdeka dengan sendirinya tetapi berkat bantuan Tuhan. Maka negara mewajibkan kepada warga negara serta penduduknya untuk memeluk dan beribadah sesuai agama dan kepercayaanya. Menurut Pasal 29 UUD 1945 ayat 1 dan 2 dapat dilihat bahwa di dalam negara Indonesia dibebaskan untuk memeluk agama masing-masing oleh karena itu tidak dibenarkan adanya pertentangan dalam hal keagamaan. Bila sila ini dipegang teguh, negara dapat menciptakan kerukunan antar umat beragama.

Kembali kedalam observasi, setelah penulis melakukan riset di daerah Mertojoyo, diketahui bahwa di daerah sekitar tempat tinggal penulis mayoritas penduduknya beragama Islam, hal ini penulis ketahui dari pemilik kos penulis yang kebetulan berkenan ditanyai oleh penulis. Sehingga jarang terdengar adanya konflik atau pertikaian antar umat beragama. Setiap harinya melalui informasi dari pemilik kos penulis dikatakan bahwa masyarakat muslim menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaan tanpa memperdebatkan perbedaan yang ada. Selain itu, di daearah sekitar tempat tinggal penulis juga sering diadakan pengajian rutin 2-3 kali setiap minggunya oleh jamaah bapak-bapak dan ibu-ibu serta sekelompok remaja yang tergabung dalam sebuah majelis mujahadah rutin. Penulis sendiri beragama non-muslim, namun perlu diakui bahwa daerah tempat tinggal penulis sangat menghargai adanya perbedaan.

B. Sila Kedua : Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab
Kemanusian yang adil dan beradab, bisa diartikan sebagai mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa. Adil disini maksudnya mengakui persamaan derajat, persamaan hak, dan kewajiban setiap manusia, tanpa membeda-bedakan suku, keturunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya.
Untuk implementasi dari sila kedua, penulis menyimpulkan bahwa untuk penanaman nilai pancasila sila kedua telah di laksanakan dengan baik di lokasi observasi penulis. Menurut penulis, hampir di setiap wilayah di Indonesia telah melaksanakan salah satu contoh dari pengamalan sila kedua pancasila ini. Seperti contohnya melaksanakan upacara pemakaman bagi orang yang telah meninggal dunia, hal ini merupakan salah satu bentuk pengamalan sila kedua pancasila yaitu rasa kemanusiaan, yaitu berupa memberikan penghormatan terakhir dan memberikan haknya yang terakhir.

Untuk implementasi yang lebih spesifik, di lokasi observasi penulis kebetulan banyak ditemukan masyarakat Papua yang kebetulan menetap di daerah Malang. Di beberapa daerah, masih banyak penduduk yang melakukan diskriminasi terhadap orang Papua asli maupun seseorang yang berkulit hitam. Diskriminasi sendiri merupakan perilaku sosial merujuk kepada pelayanan yang tidak adil terhadap individu tertentu, di mana layanan ini dibuat berdasarkan karakteristik yang diwakili oleh individu tersebut. Diskriminasi merupakan suatu kejadian yang biasa dijumpai dalam masyarakat manusia, hal ini disebabkan karena kecenderungan manusia untuk membeda-bedakan yang lain.

Dalam pandangan penulis, daerah Mertojoyo tidak lagi menggunakan mindset kuno berupa diskriminasi terhadap suatu kultur tertentu, dikarenakan di daerah Mertojoyo masyarakatnya cenderung berbaur satu sama lain dan tetap berinteraksi secara normal layaknya saudara sendiri. Ketika waktu menunjukkan pukul 4 sore, terdapat pertandingan bola voli di lapangan voli Mertojoyo Blok L. Penulis mengamati bahwa masyarakat Papua tadi tetap berbaur dengan masyarakat lokal untuk bersenang-senang dan berolahraga bersama. Dapat disimpulkan bahwa lokasi observasi ini sudah mengimplementasikan nilai adil dan beradab yang terdapat pada pancasila sila kedua.

C. Sila Ketiga : Persatuan Indonesia
Sebagai warga negara Indonesia, kita harus mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan serta sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa apabila diperlukan. Perlu dijelaskan bahwa sudah tidak sedikit lagi orang-orang yang sudah melupakan rasa persatuan dan nasionalisme, hal itu merujuk pada rasa acuh tak acuh terhadap apa yang telah terjadi pada negara kita.

Di dalam poin persatuan, secara tidak langsung terdapat nilai bahwa negara merupakan kesatuan dari unsur-unsur negara termasuk manusia-manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial (masayarakat). Karena merupakan kesatuan, kekokohan suatu negara itu bergantung pada unsur pembentuknya. Bila suatu unsur negara tidak mendukung, maka perkembangan negara akan terhambat. Pecahnya suatu negara bisa terjadi oleh karena pecahnya persatuan antar masyarakat, seperti yang terjadi di Korea yang akhirnya pecah menjadi dua negara karena beda paham. Untuk mengatasi perbedaan tersebut, diperlukan adanya persatuan. Satu dalam rasa, jiwa, tekad, serta tujuan dalam kehidupan bernegara.

Masyarakat di daerah Mertojoyo secara sadar atau tidak sadar telah mengamalkan nilai pancasila sila ketiga dalam kehidupan mereka. Seperti contohnya saat salah satu dari penduduk daerah Mertojoyo ada yang sedang mengadakan hajatan, maka baik secara sukarela ataupun di mintai bantuan masyarakat di sekitarnya dengan senang hati ikut membantu untuk terselenggaranya hajatan tersebut. Hal ini merupakan salah satu contoh rasa persatuan dan kesatuan yang telah dan masih di terapkan pada masyarakat di daerah penulis. Selain itu, setiap satu minggu sekali di daerah Mertojoyo juga melaksanakan kegiatan bersih desa bersama yang di lakukan secara gotong royong untuk membersihkan desa secara bersama-sama.

D. Sila Keempat : Kerakyatan yang dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan
Sila ini menitik beratkan pada hakekat rakyat dan permusyawaratan. Rakyat merupakan sekelompok manusia yang berdiam di suatu wilayah dan besatu dalam mewujudkan tujuan bersama. Dalam mewujudkan tujuan tersebut, diperlukan adanya pemimpin yang bijak sebagai wakil rakyat dan ditentukan dengan musyawarah. Dalam permusyawaratan pasti terdapat perbedaan namun perbedaan tersebut bisa menjadi suatu kelebihan bila dimanfaatkan atau diambil dengan kepemimpinan yang bijak dengan mengutamakan kepentingan rakyat. Dengan demilkian negara terbentuk dari, oleh, dan untuk rakyat.

Melalui sedikit perbincangan dengan penjual soto yang berdagang di daerah Mertojoyo Blok L, penulis memperoleh informasi bahwa Ketua RW 004 yang merupakan Ketua RW lokasi tempat tinggal penulis dipilih dengan cara musyawarah. Hal ini kebetulan suatu hal yang baru bagi penulis. Mengapa begitu? Karena penulis merupakan perantau yang berasal dari daerah DKI Jakarta dan di sana terbiasa untuk melakukan voting dalam setiap pemilihan tak terkecuali untuk pemimpin RW. Pedagang soto tadi menjelaskan sedikit bahwa pemilihan Ketua RW secara musyawarah merupakan cara yang dilakukan turun temurun oleh masyarakat asli Mertojoyo. Berbeda denga sistem voting, masyarakat Mertojoyo lebih menyetujui cara musyawarah guna meminimalisir kesalahpahaman.

E. Sila Kelima : Keadilan Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Poin keadilan sosial merupakan wujud akibat dari pengamalan keempat sila sebelumnya. Bila semua masyarakat mengamalkan sila ketuhanan, terciptalah manusia yang religious. Dengan sila kemanusiaan, terciptalah manusia yang beradab. Dengan sila persatuan, terciptalah masyarakat yang bersatu. Dengan sila kerakyatan. terciptalah kepemimpinan yang bijak. Semua ini bila diamalkan dengan baik pada akhirnya akan menciptakan keadilan bagi seluruh masyarakyat. Oleh karena itu, sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia bisa disebut juga tujuan bangsa Indonesia.

Makna keadilan pada sila kelima melambangkan perbuatan luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan serta kegotongroyongan. Secara umum, penulis bisa menyimpulkan beberapa cara untuk mengimplementasikan sila kelima secara nyata, berupa meningkatkan rasa kerjasama kepada siapapun untuk meningkatkan keadilan satu sama lain, tidak saling melempar kesalahan terhadap satu sama lain, menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban, dan menghormati hak orang lain. Untuk berkata-kata saja memang mudah, namun nyatanya masih banyak masyarakat Indonesia yang tergolong buta untuk menerapkan sila kelima di dalam kehidupannya sehari-hari.

Untuk praktik nyatanya sendiri, di daerah Mertojoyo beberapa bulan sekali melakukan pembagian raskin (beras untuk orang-orang yang kurang mampu). Mungkin di beberapa tempat lain sering terjadi permasalahan pada pembagian beras raskin tersebut, dimana sasaran masyarakat yang mendapatkan bantuan beras raskin tersebut tidak tepat. Semula beras raskin hanyalah di tujukan bagi warga yang kurang mampu tetapi ada warga yang tergolong mampu mendapatkan bantuan tersebut, hal itu tentunya menjadi permasalahan. Namun, di daerah Mertojyo dan sekitarnya hal seperti itu sudah tidak terjadi, dimana para warga yang mendapatkan bantuan tersebut memang benar-benar dari kalangan yang kurang mampu. Hal ini di buktikan dengan adanya survey sebelum pembagian di laksanakan. Kegiatan seperti ini merupakan salah satu bentuk pengamalan nilai pancasila sila ke lima yaitu poin keadilan sosial.

BAB III
PEMBAHASAN
Pancasila merupakan dasar negara Indonesia yang sah, di dalam pancasila terkandung lima sila yang merupakan hal terpenting bagi Bangsa Indonesia karena sesuai dengan kepribadian Indonesia dan sudah mencakup cita-cita Bangsa Indonesia. Bahkan pancasila juga dijadikan sebagai dasar hukum sehingga hukum yang dibuat di Indonesia ini berpatokan dan berlandaskan pada pancasila. Sebagai warga negara Indonesia yang baik tentu saja kita juga harus menaati dan menghormati pancasila sebagai landasan hukum. Penulis kali ini akan menjelaskan mengenai contoh permasalahan yang terdapat dalam implementasi dari butir-butir pancasila.

Sila Pertama
“Ketuhanan yang maha esa”. Bunyi sila pertama yang ada di dalam pancasila ini bertujuan supaya setiap masyarakat Indonesia bisa bebas memeluk agama sesuai dengan kepercayaan mereka masing-masing dan juga beribadah sesuai agama dan bisa saling menumbuhkan rasa toleransi terhadap agama lain. Sila pertama ini mengalami pergantian karena negara Indonesia sendiri adalah negara yang tidak hanya menganut satu agama dan kepercayaan saja. Namun sayangnya masih saja bisa terjadi beberapa pelanggaran entah itu disadari atau tanpa disadari.

Contoh Penyimpangan Sila Pertama :
Gerakan radikal kelompok tertentu yang mengatasnamakan agama
Perusakan tempat ibadah
Fanatisme yang sifatnya anarki
Contoh Kasus Penyimpangan Sila Pertama :
Bom Surabaya 2018 : Baru-baru ini terdapat kasus yang menggemparkan seluruh masyarakat Indonesia. Kasus penyimpangan pada sila pertama ini merupakan aksi terorisme yang terjadi pada tahun 2018 di Surabaya. Aksi terorisme di Indonesia ini terjadi pada 3 peristiwa sekaligus. Aksi keji ini membunuh sekitar puluhan orang yang sedang beribadah. Yang lebih buruknya lagi, bom Surabaya itu didasarkan pada suatu agama sehingga menyalahi pancasila.

Sila Kedua
“Kemanusiaan yang adil dan beradab” mengandung pengertian bahwa bangsa Indonesia diakui dan diperlakukan sesuai dengan harkat dan martabatnya selaku makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, yang sama derajatnya, sama hak dan kewajibannya, tanpa membeda-bedakan agama, suku, ras, dan keturunan.

Contoh Penyimpangan Sila Kedua :
Perbudakan
Perbudakan sudah jelas menyalahi sila kedua karena manusia tidak diperlakukan dengan semestinya dan tidak manusiawi sehingga perbudakan sangatlah dilarang.

Memperkerjakan anak di bawah umur
Jenis penyimpangan sila kedua salah satunya adalah memperkejakan anak di bawah umur. Anak di bawah umur tidak pantas untuk bekerja karena kewajiban mereka adalah menuntut ilmu di sekolah, terutama jika memperkerjakan anak di bawah umur dengan tidak wajar.

Ketidakadilan dalam bidang ekonomi
Terkadang ada beberapa kasus dalam ekonomi yang akan merugikan orang-orang yang tidak mampu dan malah menguntungkan bagi kalangan kaum atas.

Contoh Kasus Penyimpangan Sila Kedua :
Kasus seorang nenek di Banyumas : Seorang nenek divonis 1,5 tahun kurungan merupakan salah satu contoh ketidakadilan yang terjadi di Indonesia. Hanya mencuri 3 buah kakao yang mungkin harganya kurang dari 10.000 mendapat hukuman yang tidak pantas, sedangkan para koruptor yang mencuri uang negara sejumlah milyaran rupiah masih bisa tersenyum dan melambai-lambai kegirangan ke kamera serta memanfaatkan uangnya untuk memperoleh kurungan yang tidak setimpal terhadap apa yang telah mereka lakukan. Disitu pula banyak mafia hukum yang memanfaatkan para koruptor yang memiliki uang untuk dijadikan alasan supaya mereka dapat memperoleh kurungan yang lebih sedikit dibandingkan dengan peraturan yang telah di tetapkan. Sebagai mahasiswa yang kritisi, penulis mengkutuk perbuatan korupsi seperti itu. Sebagai orang yang paham terhadap hukum, penulis setuju jikalau seorang nenek tadi mendapat hukuman terhadap apa yang telah ia perbuat, namun harus sesuai dengan keadaan serta sesuai dengan apa yang tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945.

Sila Ketiga
Nilai yang terkandung dalam sila ketiga tidak dapat dipisahkan dengan keempat sila lainnya karena seluruh sila merupakan suatu kesatuan yang bersifat sistematis. Persatuan dalam sila ketiga ini meliputi makna persatuan dan kesatuan dalam arti ideologis, ekonomi, politik, sosial budaya dan keamanan. Nilai persatuan ini dikembangkan dari pengalaman sejarah Bangsa Indonesia yang senasib. Nilai persatuan itu didorong untuk mencapai kehidupan kebangsaan yang bebas dalam wadah negara yang merdeka dan berdaulat. Perwujudan Persatuan Indonesia adalah manifestasi paham kebangsaan yang memberi tempat bagi keberagaman budaya atau etnis yang bukannya ditunjukkan untuk perpecahan namun semakin eratnya persatuan, solidaritas tinggi, serta rasa bangga dan kecintaan kepada bangsa dan kebudayaan.

Contoh Penyimpangan Sila Ketiga :
Menganggap suku lain lebih baik dari sukunya sendiri
Indonesia terdiri dari berbagai macam suku ras, semua suku tentu saja memiliki keunikan dan kelebihan masing-masing. Membandingkan dan menganggap suku lain remeh tentu saja merupakan salah satu pelanggaran dari sila ini karena semuanya memang diciptakan berbeda untuk saling melengkapi.

Perang antar suku
Seperti yang kita lihat, makna dari sila ini adalah mempersatukan Indonesia. Jika terjadi perang suku tentu saja Indonesia akan terpecah dan mungkin tidak menjadi utuh sehingga ini bisa menjadi salah satu pemicu disintegrasi dan secara tidak langsung melanggar pancasila.

Contoh Kasus Penyimpangan Sila Ketiga :
OPM (Organisasi Papua Merdeka) : Organisasi Papua Merdeka sudah berdiri sejak tahun 1965 dan bahkan masih berdiri sampai sekarang. Gerakan ini merupakan salah satu organisasi yang bersikeras untuk memisahkan Papua Barat dari wilayah NKRI dan ingin merdeka sendiri karena merasa jika daerah mereka tidak ada hubungannya dengan bangsa Indonesia. Ini termasuk pelanggaran sila ketiga karena ingin tidak sesuai dengan unsur “persatuan” di dalamnya.

Sila Keempat
Sila keempat berbunyi “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat dan kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan”. Sila keempat ini berfokus pada makna yang lebih mengutamakan kepentingan masyarakat dan juga negara di atas kepentingan pribadi atau golongan.

Contoh Penyimpangan Sila Keempat :
Ketidakadilan bagi masyarakat
Sila keempat mengungkapkan akan lebih mementingkan masyarakat daripada pemerintah itu sendiri. Namun nyatanya di Indonesia masih banyak penyimpangan dan kekeliruan dalam hukum sehingga menimbulkan ketidakadilan bagi masyarakat.

Melarang orang menduduki jabatan tertentu karena suku, ras, agama, dll
Poin ini sangat nyata dan sedang terjadi di Indonesia. Sangat disayangkan jika Indonesia ini memiliki beraneka macam suku namun masyarakatnya masih banyak yang belum bisa berpikir dengan baik. Contohnya saja adanya larangan berisi mengenai seseorang yang beragama maupun bersuku minoritas dilarang menduduki suatu jabatan hanya karena tidak seagama atau tidak satu suku. Hal ini membuat penulis merasa miris dengan keadaan Indonesia yang sekarang.

Contoh Kasus Penyimpangan Sila Keempat :
Skandal Proyek Hambalang : Menurut penulis, alasan Indonesia belum dapat dikatakan sebagai negara maju adalah karena masih banyaknya koruptor. Apalagi yang banyak melakukan korupsi itu adalah para pejabat di Indonesia, padahal mereka dipilih oleh rakyat untuk mendedikasikan yang terbaik. Nyatanya mereka malah mengecewakan rakyatnya sendiri dengan cara memakan uang rakyat. Seharusnya seluruh pihak yang terkait bisa lebih menegakkan hukum yang berlaku secara tegas. Karena selama ini yang kita tau koruptor bisa dengan mudahnya lepas hukum karena melakukan suap atau yang tertangkap pun bisa menyulap penjaranya menjadi penjara berfasilitas elit.

Sila Kelima
Yang terakhir adalah sila kelima yang berbunyi, “Keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia”. Sila kelima memiliki fokus kajian bahwa jika semua masyarakat Indonesia harus bisa hidup dengan adil. Namun nyatanya sampai saat ini masih banyak sekali persoalan yang dilanggar.

Contoh Penyimpangan Sila Kelima :
Menelantarkan para veteran
Salah satu contoh nyata ketidakadilan sila kelima bisa kita lihat bagaiamana negara memperlakukan veteran atau pejuang yang sudah mengabdi pada negara bahkan sejak jaman kemerdekaan. Banyak sekali veteran dan mantan atlet yang sekarang ini hidupnya susah dan bahkan harus mencari nafkah di usia rentanya. Padahal dahulu mereka berjuang bertaruh nyawa hanya untuk merdeka dan bisa mengharumkan nama Indonesia. Namun apa yang di lakukan negara saat ini? Nyatanya tidak ada pergerakan apa-apa dari negara, bahkan membiayai kehidupan para veteran pun tidak, dan hal ini membuat kita miris terhadap apa yang telah terjadi kepada mantan pejuang bangsa ini.

Perlakuan tidak adil karena kondisi tertentu
Selanjutnya merupakan perlakuan yang tidak adil kepada masyarakat yang mungkin karena perbedaan yang ada.

Contoh Kasus Penyimpangan Sila Kelima :
Perbedaan kehidupan warga Ibukota dan Papua : Pelanggaran dari sila kelima ini bisa dilihat dari perbedaan kehidupan anatara masyarakat kota DKI Jakarta dan Papua. Walau mungkin keduanya sama-sama warga Indonesia, tetap saja warga Jakarta dan Papua memiliki perbedaan yang spesifik. Seperti yang sudah di katakan oleh Bapak Ali Maksum sewaktu pembelajaran di kelas, di Jakarta semua infrastruktur dibangun merata sedangkan di Papua pembangunan belum rata dan masih banyak yang menggunakan koteka. Seharusnya pemerintah mempertimbangkan situasi ini dan dapat mencari jalan keluar yang baik bagi Bangsa Indonesia.